Kamis, 23 Juni 2011

Anda Ibu Idola atau Sahabat yang Asyik..?



Sahabat Klinik Cinta Ananda,

Pola asuh orangtua berperan besar dalam pembentukan karakter dan pola pikir si kecil di kemudian hari nanti. Dalam mengasuh anak, Anda tak hanya bisa jadi pendidik anak tapi juga sahabat yang asyik.

Sejak si kecil lahir, Anda pasti sudah kebanjiran nasehat dan saran menjadi ibu yang handal. Namun, keputusan tetap di tangan Anda dalam menciptakan dan mengembangkan sendiri cara perawatan dan pola asuh yang sesuai dengan kebutuhan dan kepribadian anak Anda.
Setiap ibu memiliki keunikan pola asuh masing-masing terhadap si kecil. Namun, setiap ibu pasti memiliki satu kesamaan, yakni ingin agar si kecil tumbuh dan berkembang dengan sempurna serta mengalami masa kanak-kanak yang bahagia.

"Meski pendekatannya berbeda, tapi tujuan para ibu pada umumnya sama, yakni ingin yang terbaik untuk anaknya," kata Dra.Diennayarti Tjokrosuprihartono, M.Psi, psikolog anak dari Universitas Indonesia.

Secara garis besar, ada beberapa jenis karakter ibu, yakni ibu yang ingin jadi sahabat anak, ibu yang kreatif, ibu yang menjadi idola anak, serta ibu yang jadi pelindung anak.

Ibu sahabat anak memiliki gaya asuh yang santai dan penuh kasih sayang sehingga nantinya si anak akan menjadi pribadi yang bahagia, mandiri dan terbuka.

Sementara itu ibu yang kreatif adalah yang selalu penuh dengan hal baru, hangat, spontan, merupakan teman bermain si kecil. Ibu tipe ini senang membuat suasana yang baru dan spontan sehingga anak tumbuh menjadi anak yang ceria dan senang bereksplorasi.

Karakter ibu lainnya adalah ibu yang menjadi idola anak, yakni ibu yang disiplin dan memiliki cita-cita atau terget tinggi untuk si kecil. "Biasanya ini adalah ibu-ibu yang punya aktifitas di luar rumah atau ibu yang berprestasi sehingga anak kagum," kata Dien.

Sedangkan ibu yang selalu berusaha menghadirkan rasa aman bagi si kecil termasuk dalam karakter ibu pelindung. "Biasanya ibu tipe ini selalu mencari jalan keluar untuk membantu si kecil, bahkan ia selalu mengantisipasi masalah," katanya.

Empat karakter tersebut, menurut Dien, bisa muncul dalam diri setiap ibu. "Semua tipe ini dimiliki para ibu, namun yang muncul adalah lebih dominan yang mana," katanya dalam acara peluncuran komunitas Mama Moo Teman Moo dari Walls Moo di Jakarta beberapa waktu lalu.

Cara pandang, pengetahuan, serta wawasan setiap ibu akan terus berkembang seiring dengan proses belajar menjadi orangtua. "Selalu asah kepekaan dan pilih pendekatan yang pas untuk anak," ujar Dien.

Dengan demikian, kelak Anda akan bisa menghadirkan sisi-sisi terbaik dalam diri untuk memaksimalkan seluruh aspek perkembangkan anak.
Sumber: Kompas

Selasa, 21 Juni 2011

Bayi Bunda Alergi Susu ??


Sahabat Klinik Cinta Ananda,

Susu formula sebagai salah satu pemenuh kebutuhan gizi si kecil tak jarang menimbulkan alergi. Lantas apa yang menyebabkannya?
Reaksi alergi ini disebabkan oleh protein susu sapi. Kebanyakan kasus timbul pada bulan-bulan pertama ketika bayi mulai diperkenalkan dengan susu formula.

  • Gejala-gejala Alergi Susu
Gejala alergi protein susu sapi biasanya muncul ketika bayi masih berumur beberapa bulan. Dia bisa mengalami gejala yang sangat cepat setelah diberi susu formula atau disebut dengan Rapid Onset. Atau baru muncul setelah 7-10 hari usai mengkonsumsi protein susu sapi yang biasa disebut Slower Onset. Reaksi yang lambat muncul ini lebih umum terjadi. Gejala-gejalanya seperti :
  1. BAB yang encer (mungkin mengandung darah)
  2. Muntah
  3. Menutup Mulut
  4. Menolak Makanan
  5. Rewel karena Kolik
  6. Ruam Kulit
Reaksi seperti diatas memang sulit di diagnosis karena gejala-gejala yang sama juga bisa muncul pada kondisi kesehatan lainnya. Sedangkan reaksi alergi kilat biasanya berupa rewel, muntah, nafas berbunyi seperti peluit, membengkak, bercak-bercak gatal di permukaan kulit dan diare berdarah. dalam kasus yang jarang, juga bisa terjadi reaksi alergi yang hebat yang disebut ANAPHYLAXIS dan mempengaruhi kulit, perut, pernafasan, dan tekanan darah bayi. 
  • Panaskan Susu Agar Anak Tidak Alergi
Sekitar 75 %  anak-anak penderita alergi susu sapi akan mampu menoleransi kalau susu itu dipanaskan. Begitulah kesimpulan penelitian yang diungkapkan dalam Journal of Allergy and Clinical Immunology.
"Anak-anak alergi susu menghasilkan antibodi yang bereaksi melawan protein susu sehingga sistem kekebalan tubuhnya mengenali protein ini sebagai benda asing,". Anak-anak yang berhasil mengatasi alerginya masih tetap memiliki antibodi tersebut, hanya saja protein yang memicu alergi hampir seluruhnya bisa diruntuhkan dalam suhu tinggi. 
  • Susu Formula Alternatif : Hipoalergenik
Kalau bayi alergi susu, dokter akan menyarankan suatu jenis susu lain, semisal susu kedelai. Tak jarang ada juga bayi yang alergi susu sapi sekaligus susu soya. Bayi yang alergi terhadap kedua sumber protein ini biasanya disarankan mengkonsumsi susu alternatif yaitu golongan susu hipoalergenik.
Sementara susu formula hidrolisa atau susu elemental kandungan lemaknya sudah diperkecil. Selain itu kandungan protein kaseinnya sudah dipecah menjadi asam amino. Jadi kandungan bukan lagi protein melainkan "bangunan" protein yang paling kecil. Biasanya pada kemasannya bertuliskan HA atau hipoalergenic. Susu jenis ini memang khusus untuk bayi yang alergi.
Tentu saja pemberian susu ini harus dengan sepengetahuan dokter. Yang juga perlu diperhatikan adalah indikasi penyakit lain, kandungan apa saja yang harus dihindari dan berapa takaran seharusnya.