Tampilkan postingan dengan label Sikat Gigi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sikat Gigi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 24 Maret 2011

MENGATASI ANAK TAKUT PERGI KE DOKTER GIGI


Bila ditanyakan pada anak anak tempat mana saja yang paling mereka takuti untuk dikunjungi, pasti salah satu jawabannya adalah tempat praktek dokter gigi. Saat pertama kali diajak ke dokter gigi, mereka sudah mulai ketakutan begitu melihat kursi periksa gigi yang besar, lampu yang sedemikian terang dan dokter gigi yang berseragam putih lengkap dengan masker dan sarung tangan. Sebagai orang tua tentu anda akan berusaha untuk menjelaskan kepada anak anda tentang apa apa saja yang mereka lihat namun hal tersebut tidaklah begitu banyak membantu guna mengurangi rasa takut si anak. Berikut beberapa hal yang bisa anda lakukan untuk mengurangi rasa takut anak anda saat pertama kali membawa mereka ke dokter gigi :
Anda harus sudah mulai mengajak anak anda ke dokter gigi saat usia mereka sekitar dua tahun. Memang usia tersebut tergolong masih sangat muda namun itulah saat yang tepat anda membiasakan anak anda untuk mengunjungi dokter secara rutin enam bulan sekali. Dokter gigi akan mengenalkan tempat praktek berikut peralatannya kepada anak anda dengan cara yang tidak menakutkan. Selanjutnya dokter gigi akan mengajak anak anda bercakap cakap tentang bagaimana cara menyikat gigi yang benar dan hal hal yang berhubungan dengan kesehatan gigi lainnya. Semakin dini usia mereka diajak ke dokter gigi maka ketakutan mereka kepada dokter gigi juga akan berkurang.
Bacalah buku tentang kunjungan ke dokter gigi. Salah satu cara untuk menyiapkan anak anda mengunjungi dokter gigi adalah dengan mengajak mereka terlebih dahulu mengunjungi perpustakaan dan mencari buku tentang kunjungan ke dokter gigi. Tentu buku tersebut harus sesuai dengan usia mereka. Anda bisa juga mencari film atau kartun tentang kunjungan ke dokter gigi.
Kunjungi dokter gigi khusus anak anak. Jika anda telah membawa anak anda ke dokter gigi namun setelah itu mereka menangis dan tidak mau lagi kesana, mungkin anda bisa mempertimbangkan untuk mengajaknya ke dokter gigi khusus anak anak pada kunjungan berikutnya. Dokter gigi khusus anak anak atau pediatric dentist memang dilatih khusus untuk melayani kesehatan gigi anak anak. Ruangan prakteknya pun dirancang sedemikian rupa sehingga disenangi anak anak. Disana anda tidak akan menemukan kursi gigi yang besar karena yang ada adalah kursi gigi kecil seukuran anak anda.
Temanilah anak anda saat ke dokter gigi. Sediakan waktu khusus untuk menemani anak anda saat melakukan kunjungan rutin ke dokter gigi. Anak anak umumnya akan lebih tenang jika yang menemani mereka adalah orang tuanya sendiri.
Bawalah mainan favoritnya. Jika tiba waktunya ke dokter gigi, ijinkanlah anak anda membawa mainan kesukaanya. Dengan membawa benda benda yang mereka sukai diharapkan anak anda lebih mudah untuk diajak ke dokter gigi.
Jika anak anda ketakutan saat diajak ke dokter gigi, cobalah melakukan beberapa tips diatas.

Selasa, 15 Maret 2011

9 Tips Mencegah Karies Gigi Pada Anak


Pembusukan gigi atau dalam bahasa teknisnya disebut karies gigi dapat berdampak besar terhadap kepercayaan diri seorang anak dan menyebabkan masalah bagi gigi permanennya, karena gigi susu sangat penting dalam pengembangan gigi permanen. Gigi susu menyediakan ruang untuk gigi permanen, sehingga bila rusak maka gigi permanen dapat tumbuh tidak beraturan.
Sembilan tips berikut dapat mencegah pembusukan gigi pada anak-anak:
  1. Mulailah membersihkan gigi anak sejak gigi pertama tumbuh, biasanya pada umur 6 bulan. Pembersihan dilakukan setiap malam sebelum tidur. Semakin muda Anda memulai, semakin mudah untuk mengembangkan kebiasaan itu. Anda dapat menempatkan kepala anak Anda di pangkuan agar menyikat gigi lebih menyenangkan dan efektif.
    Bersihkan gusi dan gigi pertama bayi dengan kain kasa lembab atau sikat gigi kecil yang lembut. Untuk bayi dengan gigi lebih banyak, lumurkan sedikit pasta gigi anak-anak (sekitar sebutir beras) pada sikat gigi yang lembut.
  2. Jadwalkan pemeriksaan rutin ke dokter gigi setidaknya 6 bulan sekali. Jangan menunggu sampai gigi anak bermasalah. Pemeriksaan rutin membantu menjaga kesehatan mulut anak  Anda. Biarkan anak menjadi akrab dengan dokter gigi dan jangan menanamkan rasa takut padanya seperti sebagian orang tua yang sering mengancam anak-anak akan mencabut gigi mereka jika tidak menyikat gigi atau terlalu sering makan permen.
  3. Pastikan anak menyikat gigi secara teratur dua kali sehari. Mulailah mengajarkan menyikat gigi ketika anak Anda sudah cukup besar, biasanya pada usia 2 tahun. Untuk memberi contoh, biarkan anak Anda melihat Anda sedang menyikat gigi. Anak-anak adalah peniru luar biasa dan tidak ada yang lebih baik dari orang tua dalam mencontohkan cara menyikat gigi kepada anak.
  4. Siapkan makan siang anak Anda dengan makanan bergizi seperti buah-buahan, sayuran dan keju yang mengandung banyak kalsium dan rendah asam dan gula. Hindari makanan manis yang lengket dan mudah terjebak dalam gigi seperti kismis, dodol, karamel dan lolipop.
  5. Karena bakteri penyebab kerusakan gigi dapat menular, jangan memasukkan sendok dan garpu ke mulut anak Anda jika sudah Anda pakai. Usahakan masing-masing anak memiliki sikat gigi sendiri.
  6. Ketika berbelanja, pastikan untuk menyertakan beberapa sikat gigi baru dalam daftar Anda. Sikat gigi harus diganti setiap tiga bulan sekali. Pilih sikat gigi yang lembut dan kompak khusus untuk anak-anak.
  7. Cobalah untuk tidak menggunakan pasta gigi fluoride ketika anak masih kecil karena mereka mungkin menelan pasta gigi itu tanpa sengaja. Sering menelan pasta gigi yang mengandung fluoride dapat menyebabkan enamel fluorosis. Untuk anak yang lebih besar, pilih pasta gigi lembut dengan fluoride berkadar rendah sampai usia 7 tahun.
  8. Ganti gula dengan madu karena madu tidak kariogenik (menyebabkan karies gigi).
  9. Jangan memberikan susu, jus atau minuman manis saat anak akan tidur. Cairan itu akan terperangkap di bawah bibir atas anak dan dapat menyebabkan gigi depan atas mereka membusuk.

Sumber: Majalah Kesehatan

Selasa, 08 Februari 2011

Merawat Gigi Anak Agar Sehat


Perawatan gigi dan mulut secara maksimal, khususnya pada masa balita dan anak-anak, akan menentukan kesehatan gigi dan mulut mereka pada usia selanjutnya. Untuk memperoleh gigi yang sehat pada anak, bagaimanakah cara perawatannya?
Penyakit gigi dan mulut akan sering dialami oleh balita dan anak-anak bila perawatannya tidak dilakukan dengan baik. Contoh penyakit gigi dan mulut yaitu caries (lubang pada permukaan gigi), ginggivitis (radang pada gusi), dan sariawan.  

Sehabis mengonsumsi makanan yang manis (seperti coklat) dan lengket (seperti dodol), jika tidak segera disikat akan tertinggal dan menyebabkan kerusakan pada gigi. Selain itu, minuman seperti tehkopiminuman ringan, serta rokok juga dapat menimbulkan lapisan tipis di gigi yang disebut dengan stain sehingga warna gigi menjadi kusam dan kecoklatan. Lapisan stain yang kasar itu mudah ditempeli oleh sisa makanan dan kuman yang akhirnya membentuk plak, dan jika tidak dibersihkan akan mengeras dan membentuk karang gigi (calculus) yang dapat merambat ke akar gigi. Akibatnya gusi mudah berdarah, gigi gampang goyah, dan mudah tanggal.  

Merawat gigi bayi dapat dilakukan dengan cara membersihkan giginya dengan menggunakan kain kasa atau kapas yang dibilas dengan air hangat, kemudian digosokkan secara pelan-pelan pada gusi bayi. Apabila anak sudah beranjak besar, orang tua harus mengajarinya tentang rutinitas menggosok gigi. Sebaiknya pola makan si anak harus selalu diperhatikan, apakah makanan yang dikonsumsinya dapat merusak gigi atau tidak. Jangan terlalu sering memberikan anak makanan yang manis dan mudah melekat di gigi atau gusi seperti permen, coklat, dan biskuit. Makanan seperti itu dapat bereaksi di mulut dan akhirnya membentuk asam yang dapat merusak gigi dan dapat menimbulkan gigi berlubang, gigi tanggal sebelum waktunya, serta gangguan pada ukuran, bentuk maupun jumlah gigi. Untuk mencegah hal itu, berikanlah si kecil makanan yang berserat, seperti sayur dan buah yang bersifat self cleansing (membersihkan gigi) karena membutuhkan proses pengunyahan secara berulang-ulang. Kalau memang ingin memberikan makanan seperti coklat, permen, biskut dan makanan manis lainnya hendaknya pada waktu yang tepat, misalnya setelah makan siang. Jika sudah selesai mengonsumsi makanan tersebut, anak sebaiknya disuruh untuk menyikat giginya hingga bersih.