Selasa, 22 Maret 2011

Anak Anda Sembelit???


Pernahkan anak di rumah mengalami sembelit?


Anak-anak yang mengalami kesulitan buang air besar kemungkinan mengalami konstipasi atau sembelit jika sifat tinja abnormal atau apabila frekuensi ke belakangnya abnormal. Definisi sembelit adalah kesulitan atau kelambatan pasase tinja. Pada umumnya, sembelit atau konstipasi akan timbul jika tinja keras, jarang keluar dan terasa nyeri jika keluar.

Buang air besar adalah suatu reflek ; gerak peristaltik usus yang disertai relaksasi otot sfingter anus bagian dalam dan luar , dan dikendalikan secara sadar oleh otot sfingter anus bagian luar sehingga menimbulkan defekasi atau keingginan untuk buang air besar.

Pola defekasi normal berbeda-beda. Seperti pada bayi , selama 3-4 hari pertama lazimnya mengeluarkan mekonium kental warna hitam kehijauan tidak berbau, kemudian perlahan-lahan berubah jadi coklat-hijau dan berjumlah sedikit dengan frekuensi sampai 8 kali sehari, meskipin beberapa bayi dapat tidak mengeluarkan tinja selam 24 jam. Tinja susu mulai keluar setelah satu minggu, bayi dengan ASI mengeluarkan tinja lembek warna kuning muda, sedang yang mendapat susu formula memiliki tinja yang padat warna kuning. Frekuensi dan bentuk tinja anak yang lebih besar mencerminkan kebiasaan makan.

Dalam keadaan normal , mereka ada yang jarang BAB , adakalanya hanya sekali dalam 3-4 hari sekali. Masalah yang sering kali dikeluhkan jika timbul nyeri dan rasa tidak enak waktu BAB.

Penyebab sembelit diantaranya  karena kesalahan dalam diet ( kurang serat, asupan susu formula berlebihan) , kelainan bawaan ( pada usus atau persarafan ) , keracunan obat, kelainan metabolik, atau gangguan pada psikologisnya ( kesukaran toilet training )

Yang perlu diperhatikan pada sembelit anak :

  1. Frekuensi, konsistensi, warna, bau dan pola BAB sebelumnya, riwayat sembelit dalam keluarga. 
  2. Gangguan yang menyertai seperti nyeri perut, kram usus, anoreksia. 
  3. Adakah gangguan emosi, masalah di sekolah atau di rumah, konflik dengan saudara atau orang tua, dan juga hubungan ayah-ibu-anak. 
  4. Kebiasaan dan cara pemberian makan , pemberian serat pada anak. 
  5. Penggunaan obat-obatan pencahar dan yang berlebihan. 
  6. Pengenalan dan penolakan terhadap toilet training . 
  7. Pola BAB bayi baru lahir ( frekuensi, warna, konsistensi) 


Hal-hal yang perlu diwaspadai dan segera dikonsultasikan ke dokter anda , jika; 
  1. BAB terasa sakit dan berdarah 
  2. Tidak BAB selama 5 hari 
  3. Nyeri perut lebih dari satu jam 
  4. Robekan atau luka atau peradangan di sekitar anus. 


Apa yang dapat kita lakukan ; 
  1. Perubahan diet , pemberian sari buah atau sumber serat dari buah-buahan dan sayuran , cukupi dalam kebutuhan cairan perhari. Hindari produk susu, pisang , dan apel karena dapat menimbulkan sembelit. 
  2. Perawatan anus dengan melunakan tinja dan menjaga daerah tersebut agar tetap kering. Berikan krem setelah mengganti popok untuk memberikan rasa sejuk. 
  3. Mengajari secara perlahan-lahan dan sesuai dengan langkah anak sendiri dalam toilet training. 
  4. Mengatasi masalah psikologis yang menyebabkan sembelit 
  5. Dianjurkan untuk BAB setiap hari atau secara teratur dua kali sehari ke toilet 
  6. Posisi yang dapat membantu mempermudah BAB ; menekuk paha ke arah perut sehingga menaikkan tekanan dalam rongga perut.
Semoga informasi i ni bermanfaat buat Sahabat Klinik Cinta Ananda Semua...

Selasa, 15 Maret 2011

9 Tips Mencegah Karies Gigi Pada Anak


Pembusukan gigi atau dalam bahasa teknisnya disebut karies gigi dapat berdampak besar terhadap kepercayaan diri seorang anak dan menyebabkan masalah bagi gigi permanennya, karena gigi susu sangat penting dalam pengembangan gigi permanen. Gigi susu menyediakan ruang untuk gigi permanen, sehingga bila rusak maka gigi permanen dapat tumbuh tidak beraturan.
Sembilan tips berikut dapat mencegah pembusukan gigi pada anak-anak:
  1. Mulailah membersihkan gigi anak sejak gigi pertama tumbuh, biasanya pada umur 6 bulan. Pembersihan dilakukan setiap malam sebelum tidur. Semakin muda Anda memulai, semakin mudah untuk mengembangkan kebiasaan itu. Anda dapat menempatkan kepala anak Anda di pangkuan agar menyikat gigi lebih menyenangkan dan efektif.
    Bersihkan gusi dan gigi pertama bayi dengan kain kasa lembab atau sikat gigi kecil yang lembut. Untuk bayi dengan gigi lebih banyak, lumurkan sedikit pasta gigi anak-anak (sekitar sebutir beras) pada sikat gigi yang lembut.
  2. Jadwalkan pemeriksaan rutin ke dokter gigi setidaknya 6 bulan sekali. Jangan menunggu sampai gigi anak bermasalah. Pemeriksaan rutin membantu menjaga kesehatan mulut anak  Anda. Biarkan anak menjadi akrab dengan dokter gigi dan jangan menanamkan rasa takut padanya seperti sebagian orang tua yang sering mengancam anak-anak akan mencabut gigi mereka jika tidak menyikat gigi atau terlalu sering makan permen.
  3. Pastikan anak menyikat gigi secara teratur dua kali sehari. Mulailah mengajarkan menyikat gigi ketika anak Anda sudah cukup besar, biasanya pada usia 2 tahun. Untuk memberi contoh, biarkan anak Anda melihat Anda sedang menyikat gigi. Anak-anak adalah peniru luar biasa dan tidak ada yang lebih baik dari orang tua dalam mencontohkan cara menyikat gigi kepada anak.
  4. Siapkan makan siang anak Anda dengan makanan bergizi seperti buah-buahan, sayuran dan keju yang mengandung banyak kalsium dan rendah asam dan gula. Hindari makanan manis yang lengket dan mudah terjebak dalam gigi seperti kismis, dodol, karamel dan lolipop.
  5. Karena bakteri penyebab kerusakan gigi dapat menular, jangan memasukkan sendok dan garpu ke mulut anak Anda jika sudah Anda pakai. Usahakan masing-masing anak memiliki sikat gigi sendiri.
  6. Ketika berbelanja, pastikan untuk menyertakan beberapa sikat gigi baru dalam daftar Anda. Sikat gigi harus diganti setiap tiga bulan sekali. Pilih sikat gigi yang lembut dan kompak khusus untuk anak-anak.
  7. Cobalah untuk tidak menggunakan pasta gigi fluoride ketika anak masih kecil karena mereka mungkin menelan pasta gigi itu tanpa sengaja. Sering menelan pasta gigi yang mengandung fluoride dapat menyebabkan enamel fluorosis. Untuk anak yang lebih besar, pilih pasta gigi lembut dengan fluoride berkadar rendah sampai usia 7 tahun.
  8. Ganti gula dengan madu karena madu tidak kariogenik (menyebabkan karies gigi).
  9. Jangan memberikan susu, jus atau minuman manis saat anak akan tidur. Cairan itu akan terperangkap di bawah bibir atas anak dan dapat menyebabkan gigi depan atas mereka membusuk.

Sumber: Majalah Kesehatan